Haruskah Mengorbankan Cita-cita Demi Agama?

22.19 0 Comments

haruskah mengorbankan cita-cita demi agama?, maksudya apa?
maksudnya haruskah mengorbankan keinginan yang kita capai demi agama?
saya penah mendapat pertanyaan dari serang teman, dia seorang santri di salah satu pesantren yang sama seperti saya.
mau nerusin di pesantren atau ngejar cita-cita?, lalu saya jawab"emang cita2 kamu mau jadi apa?"jadi desainer" kata dia..
oh.. ya nerusin di pesantren lekasku jawab..,"tapi cita2 aku gimana dong?..
haduh gimana ya pikirku..?..

aku langsung mencari dalam al-qur'an tentang orang yang lebih memntingkan dunia daripada akhirat..aku mencari dan terus mencari karena aku pernah membaca arti yang berkaitan dengan itu..setelah lama aku pun baru teringat ah tinggal cari di mesin pencari google aja.. dan aku mendapatkan kisah seorang Weeks In Gramm
nih ceritanya cekibrot....

[media-dakwah] Akhirnya Mereka Lari Dari Neraka

handri yanto
Sun, 28 Jan 2007 21:05:44 -0800
Akhirnya Mereka Lari Dari Neraka     “Weeks In Gramm” Menyentil Keimanan Umat 
Islam   
  By ichsanmufti 
   
  Ada apa ini? Ada apa dengan Islam kita?! Kenapa iman tak lagi manis kita 
rasakan?!. Padahal kurang apa lagi kita?!. Hidup ditengah keluarga muslim, 
sekian lama akrab dengan symbol dan  ritual keislaman. Namun sayang, lezatnya 
iman telah lama hilang dari kecapan indera perasa jiwa kita.
   
  Maaf.. Tadi saya menangis, sesekali terlontar teriakan penyesalan. Anda 
jangan khawatir, bukan karena anda tangis itu ada. Bukanlah tangis kepedihan, 
bukanlah tangis rerintihan, bukan pula tangis duka. Tadi itu “tangis haru” 
wahai saudaraku. Tangis yang manis dijiwa. Apakah kalian bisa mendengarnya?!
   
  Buku itu tak sengaja kubuka. Judulnya menyelinap sampai mata hatiku. Aku buka 
kisah pertama. Siang tadi aku tersungkur dubuatnya… Kalian harus baca ini. ( 
Sebuah paksaan yang tak pernah akan kalian sesali).
   
  Weeks In Gramm bertutur kepada kita. Ia adalah seorang Produser Film di 
“Kerajaan Holywood” : 
   
  Ia berkata : “Kenapa aku masuk Islam? Kenapa pula aku menjadikan Islam 
sebagai agamaku? Hal itu karena aku yakin bahwa islam adalah agama yang 
memberikan kedamaian dan ketenangan dalam jiwa, menginspirasikan kepada manusia 
akan kesabaran dan ketentraman hati serta kenyamanan dalam hidup. Ruh Islam 
telah merasuk dalam jiwaku, sehingga aku merasakan nikmat iman terhadap 
ketetapan Allah dan tidak memperdulikan efek-efek materialisme berupa kelezatan 
dan rasa sakit.
   
  Aku memberikan pernyataan ini bukan sekedar karena perasaan sesaat yang 
melintas dalam pikiranku. Bahkan sebaliknya, aku telah mempelajari agama Islam 
selama dua tahun dan aku tidak menjadikannya sebagai agama kecuali setelah 
melewati pengamatan hati yang begitu mendalam dan psiko analisa yang panjang. 
Aku tidak mengganti agamaku selain agar bisa mendapatkan ketenangan dari hiruk 
pikuk kehidupan yang gila dan agar aku merasakan nikmat kenyamanan dalam 
naungan kedamaian  dan perenungan. Jauh dari derita kesedihan dan nestapa yang 
disebabkan ketamakan  dalam mencari keuntungan  dan kerakusan terhadap materi 
yang telah menjadi “tuhan” serta cita-cita manusia. Tatkala telah masuk Islam 
aku mampu melepaskan diri dari cengkeramaan rayuan, tipuan kehidupan  yang 
batil, minum-minuman, narkotika dan gila musik jazz. Ya, ketika masuk Islam 
berarti aku telah menyelamatkan pikiran, akal sehat dan kehidupanku dari 
kehancuran dan kebinasaan.
   
  Saat itu, ada seorang lelaki Arab yang tinggi dan berwibawa berdiri diatas 
menara dan mengumandangkan adzan sholat untuk diambil gambarnya dalam produksi 
filmku. Manakala dia dalam keadaan seperti itu dan kru kamera tengah mengambil 
gambar pemandangan tersebut, sementara aku berdiri di sini memperhatikan itu 
semuanya, tinggi rendah suaranya menembus relung hatiku.
   
  Tatkala kami selesai dari proses pengambilan gambar, aku memanggil lelaki 
Arab itu ke kantorku. Aku mulai menanyainya secara mendetail  tentang agama 
islam. Setelah itu  aku memeluk islam dan mengerjakan sholat bersamanya. 
Perlahan-lahan aku merasakan kepuasan jiwa menyelimutiku. Aku mulai merasakan 
kebahagiaan dan membenci segala ambisi yang telah mengekang jiwaku.
   
  Setelah kejadian tersebut , tibalah hari yang aku yakini bahwa aku tidak akan 
bisa menyelaraskan antara profesiku di film dan agama islamku. Harus ada satu 
salah satu yang hilang. Ada pergolakan jiwa yang hebat. “ Haruskah aku 
mengorbankan profesi dan masa depan demi agamaku atau aku korbankan agamaku 
demi masa depanku?” Demikianlah, aku terus begadang  malam demi malam, 
berbaring diatas ranjang, sedang kedua mataku enggan terpejam sampai pagi, 
memikirkan  jalan keluar permasalahan ini. Hingga datanglah jawaban dari Allah 
kepadaku.
   
  Aku harus meninggalkan profesi filmku dan menjauhi segala tipu daya rayuan 
Holywood. Sungguh hal itu benar-benar pedih bagi diriku, namun pada akhirnya 
aku mengambil keputusan akan masalah ini saat sedang melakukan shooting di Yins.
   
  Pada suatu malam, aku berdiri sholat, aku terus sholat lama sekali, maka 
kekuatanku bertambah dan tekadku telah bulat. Di hari berikutnya, aku palingkan 
diriku dari pekerjaanku, lalu aku serahkan raga, jiwa dan kehidupanku untuk 
agama Muhammad.
   
  Hari ini aku adalah putra Islam. Aku bahagia melebihi hari-hari kehidupanku. 
Mungkin aku akan pergi ke Afrika. Dan bila jadi pergi, aku akan melepaskan 
kewarganegaraan sekaligus busanan baratku. Dan, sebagai seorang mukmin yang 
menganut agama
   
  timur, aku akan menjadi orang timur (islam). Bila sekali pergi, aku tidak 
akan kembali. Kehidupanku telah aku baktikan untuk Allah, sedang pekerjaanku 
telah mati dan aku lupakan. 
   
  (Salah satu kisah dari buku “Akhirnya Mereka Lari Dari Neraka -karya Kholid 
Abu Sholih-)
   
   
  Sofiya dan Pencarian Kebenaran   
  By ichsanmufti 
   
  Tidak disangsikan lagi bahwa tauhid merupakan pilihan setiap orang yang 
menggunakan akalnya untuk mengetahui kebenaran sesuatu. Inilah sesungguhnya 
yang terjadi pada Sofiya, gadis inggris yang tengah menginjak usia 15 tahun. 
Sofiya menggunakan akalnya dan menjelajah dunia maya (browsing internet) untuk 
mencari kebenaran. Yakni hakikat segala yang ada, dari mana asalnya dan 
bagaimana akhirnya, hingga ia mendapatkan apa yang dicarinya dalam situs islam. 
Dan ketika telah sampai pada tingkat keyakinan, ia memberitahu teman-temannya 
dalam forum percakapan islami (Chatting Room). 
   
  Ia beritahukan kepada mereka bahwa dirinya berniat masuk islam, tetapi ia 
tidak tahu bagaimana caranya, khususnya karena tidak ada orang-orang  islam di 
sekitarnya, apalagi masjid. Orang-orang yang chatting dengannya memberitahukan 
bahwa ia harus mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan saksi-saksi muslim. 
Berhubung di kotanya tidak ada orang muslim, maka orang-orang yang mengobrol 
lewat chatting itulah yang menjadi saksi. Selanjutnya Sofiya menuliskan 
kalimat,”La ilaha illallah, Muhammad Rasulullah” di layar komputer seraya 
mengucapkannya melalui microphone. Lantas sampailah jawaban para peserta 
diskusi  seraya serempak menggemakan takbir, “Allahu akbar… Allahu 
akbar..Alhamdulillah.” Demikianlah, Islam menyinari hati Sofiya sebagaimana 
telah menerangi hati orang banyak lainnya yang memiliki akal sehat. 
   
  (Salah satu kisah dari buku “Akhirnya Mereka Lari Dari Neraka -karya Kholid 
Abu Sholih-. Penerbit WIP)
   
   
  Sumber : http://kadomuslim.com/
uhh mantep sekali kan..coba bandingkan dengan kita oh no..
jadi apa kita ini jadi hanya memikirkan kesuksesan dunia saja dan melalaikan urusan akhirat?
kita sudah islam dari dulu masih aja kaya gini2 aja...wah3..
jangan jangan kita mau jadi orang yang cinta dunia dan takut mati..penyakit al-wahan gitu deh..
naudzubillah.. 
 

Unknown

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard.

0 komentar: