HUKUM MUSIK DAN LAGU


"Dan di antara manusia (ada) yang mempergunakan lahwul hadits untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu bahan olok-olokan." (Luqman: 6)
Sebagian besar mufassir berkomen-tar, yang dimaksud dengan lahwul hadits dalam ayat tersebut adalah nyanyian. Hasan Al Basri berkata,ayat itu turun dalam masalah musik dan lagu. Allah berfirman kepada setan:

"Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan suaramu."
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam telah bersabda:

"Kelak akan ada dari umatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutera, minuman keras dan musik." (HR. Bukhari dan Abu Daud).

Dengan kata lain, akan datang suatu masa di mana beberapa golongan dari umat Islam mempercayai bahwa zina, memakai sutera asli, minum-minuman keras dan musik hukumnya halal, padahal semua itu adalah haram.
Adapun yang dimaksud dengan musik di sini adalah segala sesuatu yang menghasilkan bunyi dan suara yang indah serta menyenangkan. Seperti kecapi, gendang, rebana, seruling, serta berbagai alat musik modern yang kini sangat banyak dan beragam. Bahkan termasuk di dalamnya jaros (lonceng, bel, klentengan).
"Lonceng adalah nyanyian setan ." (HR. Muslim)

Padahal di masa dahulu mereka hanya mengalungkan klentengan pada leher binatang. Hadits di atas menun-jukkan betapa dibencinya suara bel tersebut. Penggunaan lonceng juga ber-arti menyerupai orang-orang nasrani, di mana lonceng bagi mereka merupakan suatu yang prinsip dalam aktivitas gereja.

Nyanyian di masa kini:
Kebanyakan lagu dan musik pada saat ini di adakan dalam berbagai pesta juga dalam tayangan televisi dan siaran radio. Mayoritas lagu-lagunya berbicara tentang asmara, kecantikan, ketampanan dan hal lain yang lebih banyak mengarah kepada problematika biologis, sehingga membangkitkan nafsu birahi terutama bagi kawula muda dan remaja. Pada tingkat selanjutnya membuat mereka lupa segala-galanya sehingga terjadilah kemaksiatan, zina dan dekadensi moral lainnya.
Lagu dan musik pada saat ini tak sekedar sebagai hiburan tetapi sudah merupakan profesi dan salah satu lahan untuk mencari rizki. Dari hasil menyanyi, para biduan dan biduanita bisa mem-bangun rumah megah, membeli mobil mewah atau berwisata keliling dunia, baik sekedar pelesir atau untuk pentas dalam sebuah acara pesta musik.
Tak diragukan lagi hura-hura musik, baik dari dalam atau manca negara sangat merusak dan banyak menimbul-kan bencana besar bagi generasi muda. Lihatlah betapa setiap ada pesta kolosal musik,selalu ada saja yang menjadi korban. Baik berupa mobil yang hancur, kehilangan uang atau barang lainnya, cacat fisik hingga korban meninggal dunia. Orang-orang berjejal dan mau saja membayar meski dengan harga tiket yang tinggi. Bagi yang tak memiliki uang terpaksa mencari akal apapun yang penting bisa masuk stadion, akhirnya merusak pagar, memanjat dinding atau merusak barang lainnya demi bisa menyaksikan pertunjukan musik kolosal tersebut. Jika pentas dimulai, seketika para penonton hanyut bersama alunan musik. Ada yang menghentak, menjerit histeris bahkan pingsan karena mabuk musik.
Para pemuda itu mencintai para penyanyi idola mereka melebihi kecintaan mereka kepada Allah Ta'ala yang menciptakannya, ini adalah fitnah yang amat besar.
Semua nyanyian itu hampir sama, bahkan hingga nyanyian-nyanyian yang bernafaskan Islam sekalipun tidak akan lepas dari kemungkaran. Bahkan di antara sya'ir lagunya ada yang berbunyi:

"Dan besok akan dikatakan, setiap nabi berada pada kedudukannya ... Ya Muhammad inilah Arsy, terimalah ..."

Bait terakhir dari sya'ir tersebut adalah suatu kebohongan besar terhadap Allah dan RasulNya, tidak sesuai dengan kenyataan dan termasuk salah satu bentuk pengkultusan terhadap diri Rasul Shallallahu 'Alaihi Wasallam, padahal hal semacam itu dilarang.

"Hai manusia sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan sebagai penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman." (Yunus: 57)

Kiat Mengobati virus nyanyian dan musik :
Di antara beberapa langkah yang dianjurkan adalah:
Jauhilah dari mendengarnya baik dari radio, televisi atau lainnya, apalagi jika berupa lagu-lagu yang tak sesuai dengan nilai-nilai akhlak dan diiringi dengan musik.
Di antara lawan paling jitu untuk menangkal ketergantungan kepada musik adalah dengan selalu mengingat Allah dan membaca Al Qur'an, terutama surat Al Baqarah. Dalam hal ini Allah Ta'ala telah berfirman:

"Sesungguhnya setan itu lari dari rumah yang di dalamnya dibaca surat Al Baqarah."( HR. Muslim)
"Hai manusia sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan sebagai penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman." (Yunus: 57)

Membaca sirah nabawiyah (riwayat hidup Rasul Shallallahu 'Alaihi Wasallam) , demikian pula sejarah hidup para sahabat beliau.
Nyanyian yang diperbolehkan:
Ada beberapa nyanyian yang diperbolehkan yaitu:
Menyanyi pada hari raya. Hal itu berdasarkan hadits A'isyah:
"Suatu ketika Rasul Shallallahu 'Alaihi Wasallam masuk ke bilik 'Aisyah, sedang di sisinya ada dua orang hamba sahaya wanita yang masing-masing memukul rebana (dalam riwayat lain ia berkata: "...dan di sisi saya terdapat dua orang hamba sahaya yang sedang menyanyi."), lalu Abu Bakar mencegah keduanya. Tetapi Rasulullah malah bersabda: "Biarkanlah mereka karena sesungguhnya masing-masing kaum memiliki hari raya, sedangkan hari raya kita adalah pada hari ini." (HR. Bukhari)

Menyanyi dengan rebana ketika berlangsung pesta pernikahan, untuk menyemarakkan suasana sekaligus memperluas kabar pernikahannya. Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
"Pembeda antara yang halal dengan yang haram adalah memukul rebana dan suara (lagu) pada saat pernikahan." (Hadits shahih riwayat Ahmad). Yang dimaksud di sini adalah khusus untuk kaum wanita.

Nasyid Islami (nyanyian Islami tanpa diiringi dengan musik) yang disenandungkan saat bekerja sehingga bisa lebih membangkitkan semangat, terutama jika di dalamnya terdapat do'a. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menyenandungkan sya'ir Ibnu Rawahah dan menyemangati para sahabat saat menggali parit. Beliau bersenandung:
"Ya Allah tiada kehidupan kecuali kehidupan akherat maka ampunilah kaum Anshar dan Muhajirin."
Seketika kaum Muhajirin dan Anshar menyambutnya dengan senandung lain:
"Kita telah membai'at Muhammad, kita selamanya selalu dalam jihad."
Ketika menggali tanah bersama para sahabatnya, Rasul Shallallahu 'Alaihi Wasallam juga bersenandung dengan sya'ir Ibnu Rawahah yang lain:

"Demi Allah, jika bukan karena Allah, tentu kita tidak mendapat petunjuk, tidak pula kita bersedekah, tidak pula mengerjakan shalat. Maka turunkanlah ketenangan kepada kami, mantapkan langkah dan pendirian kami jika bertemu (musuh) Orang-orang musyrik telah mendurhakai kami, jika mereka mengingin-kan fitnah maka kami menolaknya." Dengan suara koor dan tinggi mereka balas bersenandung "Kami menolaknya, ... kami menolaknya." (Muttafaq 'Alaih)

Nyanyian yang mengandung pengesaan Allah, kecintaan kepada Rasululah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dengan menyebutkan sifat-sifat beliau yang terpuji; atau mengandung anjuran berjihad, teguh pendirian dan memper-baiki akhlak; atau seruan kepada saling mencintai, tomenolong di antara sesama; atau menyebutkan beberapa kebaikan Islam, berbagai prinsipnya serta hal-hal lain yang bermanfaat buat masyarakat Islam, baik dalam agama atau akhlak mereka.
Di antara berbagai alat musik yang diperbolehkan hanyalah rebana. Itupun penggunaannya terbatas hanya saat pesta pernikahan dan khusus bagi para wanita. Kaum laki-laki sama sekali tidak dibolehkan memakainya. Sebab Rasul Shallallahu 'Alahih Wasallam tidak memakainya, demikian pula halnya dengan para sahabat beliau Radhiallahu 'Anhum Ajma'in.
Orang-orang sufi memperbolehkan rebana, bahkan mereka berpendapat bahwa menabuh rebana ketika dzikir hukumnya sunnat, padahal ia adalah bid'ah, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

"Jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan, karena sesungguhnya setiap perkara yang diada-adakan adalah bid'ah. dan setiap bid'ah adalah sesat." (HR. Turmudzi, beliau berkata: hadits hasan shahih).

Maraknya Musik, Bagaimanakah Menurut Islam?



Maraknya Musik, Bagaimanakah Menurut Islam?

Maraknya konser musik dan festival lagu di negri kita serta nyanyian yang kian digandrungi, bukan saja oleh para remaja, tetapi juga diminati dan dinikmati oleh para orang tua, bahkan anak-anak, baik lewat televisi, radio, Hand phone, dan media-media elektronik lainnya, mendorong tim redaksi an-Nur untuk kembali mengangkat tema yang berkaitan dengannya. Harapan kami agar kaum Muslimin mengerti dengan jelas bagaimana sebenarnya kedudukan musik yang seakan tidak pernah sepi dan tak terpisahkan dalam kehidupan mereka.
Pandangan al-Qur’an Dan as- Sunnah
Allah Subhanahu wata’ala berfirman, artinya, “Dan di antara manusia (ada) yang memper-gunakan lahwul hadits untuk menyesat-kan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu bahan olok-olokan.” (QS. Luqman: 6).
Sebagian besar mufassir berko-mentar, yang dimaksud dengan lahwul hadits dalam ayat tersebut adalah nyanyian. Hasan al-Basri berkata, “Ayat itu turun dalam masalah musik dan lagu.” Allah Subhanahu wata’ala berfirman kepada setan, artinya, “Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan suaramu.” Maksudnya dengan lagu (nyanyian) dan musik.
RasulullahShallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Kelak akan ada dari umatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutera, minum-an keras dan musik.” (HR. al-Bukhari dan Abu Daud)
Dengan kata lain, akan datang suatu masa, ketika beberapa golongan dari umat Islam mempercayai bahwa zina, memakai sutera asli, minum-minuman keras, dan musik hukumnya halal, padahal semua itu adalah haram.
Adapun yang dimaksud dengan musik di sini adalah segala sesuatu yang menghasilkan bunyi dan suara yang indah serta menyenangkan. Seperti kecapi, gendang, rebana, seruling, dan berbagai alat musik modern yang kini sangat banyak dan beragam. Bahkan termasuk di dalamnya jaros (lonceng, bel, klentengan).
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Lonceng adalah nyanyian setan.” (HR. Muslim)
Di masa dahulu orang-orang hanya mengalungkan klentengan pada leher binatang. Hadits di atas menunjukkan betapa dibencinya suara bel tersebut. Penggunaan lonceng juga berarti menyerupai orang-orang nasrani. Lonceng bagi mereka merupakan suatu yang prinsip dalam aktivitas gereja.
Imam Syafi’i dalam kitabnya al- Qadha’ berkata, “Nyanyian adalah kesia-siaan yang dibenci, bahkan menyerupai perkara batil. Barangsiapa memperba-nyak nyanyian, maka dia adalah orang dungu, syahadat (kesaksiannya) tidak dapat diterima.”
Nyanyian di Masa Kini:
Kebanyakan lagu dan musik pada saat ini manggung di berbagai pesta juga dalam tayangan televisi dan siaran radio. Mayoritas sya’ir-sya’irnya berisi tentang asmara, kecantikan, ketampanan dan hal lain yang lebih banyak mengarah kepada eksploitasi biologis, sehingga mem-bangkitkan nafsu birahi, terutama bagi kawula muda dan remaja. Selanjutnya hal itu membuat mereka lupa segala-galanya, sehingga terjadilah kemaksiat-an, zina dan dekadensi moral lainnya.
Tak diragukan lagi hura-hura musik baik dari dalam atau manca negara sangat merusak dan banyak menimbulkan bencana besar bagi generasi muda. Lihatlah betapa setiap ada pesta kolosal musik, selalu ada saja yang menjadi korban. Baik berupa mobil yang hancur, kehilangan uang atau barang lainnya, cacat fisik hingga korban meninggal dunia. Orang-orang berjejal dan mau saja membayar meski dengan harga tiket yang tinggi. Bagi yang tak memiliki uang terpaksa mencari berbagai cara yang penting bisa masuk stadion. Akhirnya merusak pagar, memanjat dinding atau merusak barang lainnya demi bisa menyaksikan pertunjukan musik kolosal tersebut.
Jika pentas dimulai, seketika para penonton hanyut bersama alunan musik. Ada yang menghentak, menjerit histeris bahkan pingsan karena mabuk musik.
Para pemuda itu mencintai para penyanyi idola mereka melebihi kecintaan mereka kepada Allah Subhanahu wata’ala yang menciptakannya. Ini adalah fitnah yang amat besar.
Tersebutlah pada saat terjadi perang antara Bangsa Arab dengan Yahudi tahun 1967, para pembakar semangat menyeru kepada para pejuang, “Maju terus, bersama kalian biduan fulan dan biduanita fulanah … “, kemudian mereka menderita kekalahan di tangan para Yahudi yang pendosa.
Seharusnya diserukan, “Maju terus, Allah Subhanahu wata’ala bersama kalian. Allah Subhanahu wata’ala akan menolong kalian.” Dalam peperangan itu pula, salah seorang biduanita memaklumkan, jika mereka menang, maka ia akan menyelenggarakan pentas bulanannya di Tel Aviv, ibukota Israel, padahal biasanya digelar di Mesir. Sebaliknya yang dilakukan orang-orang Yahudi setelah merperoleh kemenangan adalah mereka bersimpuh di Ha’ith Mabka (dinding ratapan) sebagai tanda syukurnya kepada Tuhan mereka.
Semua nyanyian itu hampir sama, bahkan hingga nyanyian-nyanyian yang bernafaskan Islam sekalipun, tidak akan lepas dari kemungkaran.Bahkan di antara sya’ir lagunya ada yang berbunyi,
“Dan besok akan dikatakan, setiap nabi berada pada kedudukannya …
Ya Muhammad inilah Arsy, terima-lah.”
Bait terakhir dari sya’ir tersebut merupakan suatu kebohongan besar terhadap Allah Subhanahu wata’ala dan RasulNya. Tidak sesuai dengan kenyataan dan termasuk salah satu bentuk pengultusan terhadap diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Hal semacam itu dilarang.
Kiat Mengobati virus nyanyian dan musik.
Beberapa langkah yang dianjurkan, diantaranya:
1. Jangan mendengarkan musik, baik dari radio, televisi atau lainnya. Apalagi jika syair-syairnya tak sesuai dengan akhlak Islam dan diiringi dengan musik.
Di antara lawan paling jitu untuk menangkal ketergantungan kepada musik adalah dengan selalu mengingat Allah Subhanahu wata’ala dan membaca al-Qur’an, terutama surat Al Baqarah. Dalam hal ini Allah Subhanahu wata’ala telah berfirman, artinya, “Hai manusia sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu dan sebagai penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Yunus: 57)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Sesungguhnya setan itu lari dari rumah yang di dalamnya surat Al Baqarah dibaca.” (HR. Muslim)
2. Membaca sirah Shallallahu ‘alaihi wasallam (riwayat hidup Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam). Demikian pula sejarah hidup para sahabat beliau.
Nyanyian yang Diperbolehkan
Ada beberapa nyanyian yang diperbolehkan, yaitu:
1. Menyanyi pada hari raya. Hal itu berdasarkan hadits A’isyah,”Suatu ketika Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke bilik ‘Aisyah, sedang di sisinya ada dua orang hamba sahaya wanita yang masing-masing memukul rebana (dalam riwayat lain ia berkata, “… dan di sisi saya terdapat dua orang hamba sahaya yang sedang menyanyi.”), lalu Abu Bakar mencegah keduanya. Tetapi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam justru bersabda, “Biarkanlah mereka karena sesung-guhnya masing-masing kaum memiliki hari raya, sedangkan hari raya kita adalah pada hari ini.” (HR. al-Bukhari).
2. Menyanyi dengan rebana ketika berlangsung pesta pernikahan, untuk menyemarakkan suasana sekaligus memperluas kabar pernikahannya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Pembeda antara yang halal dengan yang haram adalah memukul rebana dan suara (lagu) pada saat pernikahan.” (Hadits shahih riwayat Ahmad). Yang dimaksud di sini adalah khusus untuk kaum wanita.
3. Nasyid Islami (nyanyian Islami tanpa diiringi dengan musik) yang disenandungkan saat bekerja sehingga bisa lebih membangkitkan semangat, terutama jika di dalamnya terdapat do’a. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyenandungkan sya’ir Ibnu Rawahah dan menyemangati para sahabat saat menggali parit. Beliau bersenandung, “Ya Allah tiada kehidupan kecuali kehidupan akhirat, maka ampunilah kaum Anshar dan Muhajirin.” Seketika kaum Muhajirin dan Anshar menyambutnya dengan senandung lain, “Kita telah membai’at Muhammad, kita selamanya selalu dalam jihad.”
Ketika menggali tanah bersama para sahabatnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersenandung dengan sya’ir Ibnu Rawahah yang lain,
“Demi Allah, jika bukan karena Allah, tentu kita tidak mendapat petunjuk, tidak pula kita bersedekah, tidak pula mengerjakan shalat.
Maka turunkanlah ketenangan kepada kami, mantapkan langkah dan pendirian kami jika bertemu (musuh)
Orang-orang musyrik telah men durhakai kami, jika mereka mengingin-kan fitnah, maka kami menolaknya.”
Dengan suara koor dan tinggi mereka balas bersenandung, “Kami menolaknya,…kami menolaknya.” (Muttafaq ‘Alaih)
4. Nyanyian yang mengandung pengesaan Allah Subhanahu wata’ala, kecintaan kepada Rasululah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan menyebutkan sifat-sifat beliau yang terpuji; atau mengandung anjuran berjihad, teguh pendirian dan memperbaiki akhlak; atau seruan kepada saling mencintai, tolong- menolong di antara sesama; atau menyebutkan beberapa kebaikan Islam, berbagai prinsipnya serta hal-hal lain yang bermanfaat buat masyarakat Islam, baik dalam agama atau akhlak mereka.
Di antara berbagai alat musik yang diperbolehkan hanyalah rebana. Itupun penggunaannya terbatas hanya saat pesta pernikahan dan khusus bagi para wanita. Kaum laki-laki sama sekali tidak dibolehkan memakainya. Sebab Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memakainya. Demikian pula halnya dengan para sahabat beliau radhiallahu ‘anhum ajma’in.
Orang-orang Sufi memperbolehkan rebana, bahkan mereka berpendapat bahwa menabuh rebana ketika dzikir hukumnya sunnat, padahal ia adalah bid’ah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan, karena sesungguhnya setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah. dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Turmudzi, beliau berkata, “Hadits hasan sha-hih.”).(Tim Redaksi an-Nur)
Sumber: Rasa’ilut Taujihat Al Islamiyah, 1/ 514 – 516.
Oleh: Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu
http://abuyahya8211.wordpress.com/2009/06/15/musik-dalam-kaca-mata-islam/
http://aslibumiayu.wordpress.com/2011/04/24/maraknya-musik-bagaimanakah-menurut-islam/

Haruskah Mengorbankan Cita-cita Demi Agama?

haruskah mengorbankan cita-cita demi agama?, maksudya apa?
maksudnya haruskah mengorbankan keinginan yang kita capai demi agama?
saya penah mendapat pertanyaan dari serang teman, dia seorang santri di salah satu pesantren yang sama seperti saya.
mau nerusin di pesantren atau ngejar cita-cita?, lalu saya jawab"emang cita2 kamu mau jadi apa?"jadi desainer" kata dia..
oh.. ya nerusin di pesantren lekasku jawab..,"tapi cita2 aku gimana dong?..
haduh gimana ya pikirku..?..

aku langsung mencari dalam al-qur'an tentang orang yang lebih memntingkan dunia daripada akhirat..aku mencari dan terus mencari karena aku pernah membaca arti yang berkaitan dengan itu..setelah lama aku pun baru teringat ah tinggal cari di mesin pencari google aja.. dan aku mendapatkan kisah seorang Weeks In Gramm
nih ceritanya cekibrot....

[media-dakwah] Akhirnya Mereka Lari Dari Neraka

handri yanto
Sun, 28 Jan 2007 21:05:44 -0800
Akhirnya Mereka Lari Dari Neraka     “Weeks In Gramm” Menyentil Keimanan Umat 
Islam   
  By ichsanmufti 
   
  Ada apa ini? Ada apa dengan Islam kita?! Kenapa iman tak lagi manis kita 
rasakan?!. Padahal kurang apa lagi kita?!. Hidup ditengah keluarga muslim, 
sekian lama akrab dengan symbol dan  ritual keislaman. Namun sayang, lezatnya 
iman telah lama hilang dari kecapan indera perasa jiwa kita.
   
  Maaf.. Tadi saya menangis, sesekali terlontar teriakan penyesalan. Anda 
jangan khawatir, bukan karena anda tangis itu ada. Bukanlah tangis kepedihan, 
bukanlah tangis rerintihan, bukan pula tangis duka. Tadi itu “tangis haru” 
wahai saudaraku. Tangis yang manis dijiwa. Apakah kalian bisa mendengarnya?!
   
  Buku itu tak sengaja kubuka. Judulnya menyelinap sampai mata hatiku. Aku buka 
kisah pertama. Siang tadi aku tersungkur dubuatnya… Kalian harus baca ini. ( 
Sebuah paksaan yang tak pernah akan kalian sesali).
   
  Weeks In Gramm bertutur kepada kita. Ia adalah seorang Produser Film di 
“Kerajaan Holywood” : 
   
  Ia berkata : “Kenapa aku masuk Islam? Kenapa pula aku menjadikan Islam 
sebagai agamaku? Hal itu karena aku yakin bahwa islam adalah agama yang 
memberikan kedamaian dan ketenangan dalam jiwa, menginspirasikan kepada manusia 
akan kesabaran dan ketentraman hati serta kenyamanan dalam hidup. Ruh Islam 
telah merasuk dalam jiwaku, sehingga aku merasakan nikmat iman terhadap 
ketetapan Allah dan tidak memperdulikan efek-efek materialisme berupa kelezatan 
dan rasa sakit.
   
  Aku memberikan pernyataan ini bukan sekedar karena perasaan sesaat yang 
melintas dalam pikiranku. Bahkan sebaliknya, aku telah mempelajari agama Islam 
selama dua tahun dan aku tidak menjadikannya sebagai agama kecuali setelah 
melewati pengamatan hati yang begitu mendalam dan psiko analisa yang panjang. 
Aku tidak mengganti agamaku selain agar bisa mendapatkan ketenangan dari hiruk 
pikuk kehidupan yang gila dan agar aku merasakan nikmat kenyamanan dalam 
naungan kedamaian  dan perenungan. Jauh dari derita kesedihan dan nestapa yang 
disebabkan ketamakan  dalam mencari keuntungan  dan kerakusan terhadap materi 
yang telah menjadi “tuhan” serta cita-cita manusia. Tatkala telah masuk Islam 
aku mampu melepaskan diri dari cengkeramaan rayuan, tipuan kehidupan  yang 
batil, minum-minuman, narkotika dan gila musik jazz. Ya, ketika masuk Islam 
berarti aku telah menyelamatkan pikiran, akal sehat dan kehidupanku dari 
kehancuran dan kebinasaan.
   
  Saat itu, ada seorang lelaki Arab yang tinggi dan berwibawa berdiri diatas 
menara dan mengumandangkan adzan sholat untuk diambil gambarnya dalam produksi 
filmku. Manakala dia dalam keadaan seperti itu dan kru kamera tengah mengambil 
gambar pemandangan tersebut, sementara aku berdiri di sini memperhatikan itu 
semuanya, tinggi rendah suaranya menembus relung hatiku.
   
  Tatkala kami selesai dari proses pengambilan gambar, aku memanggil lelaki 
Arab itu ke kantorku. Aku mulai menanyainya secara mendetail  tentang agama 
islam. Setelah itu  aku memeluk islam dan mengerjakan sholat bersamanya. 
Perlahan-lahan aku merasakan kepuasan jiwa menyelimutiku. Aku mulai merasakan 
kebahagiaan dan membenci segala ambisi yang telah mengekang jiwaku.
   
  Setelah kejadian tersebut , tibalah hari yang aku yakini bahwa aku tidak akan 
bisa menyelaraskan antara profesiku di film dan agama islamku. Harus ada satu 
salah satu yang hilang. Ada pergolakan jiwa yang hebat. “ Haruskah aku 
mengorbankan profesi dan masa depan demi agamaku atau aku korbankan agamaku 
demi masa depanku?” Demikianlah, aku terus begadang  malam demi malam, 
berbaring diatas ranjang, sedang kedua mataku enggan terpejam sampai pagi, 
memikirkan  jalan keluar permasalahan ini. Hingga datanglah jawaban dari Allah 
kepadaku.
   
  Aku harus meninggalkan profesi filmku dan menjauhi segala tipu daya rayuan 
Holywood. Sungguh hal itu benar-benar pedih bagi diriku, namun pada akhirnya 
aku mengambil keputusan akan masalah ini saat sedang melakukan shooting di Yins.
   
  Pada suatu malam, aku berdiri sholat, aku terus sholat lama sekali, maka 
kekuatanku bertambah dan tekadku telah bulat. Di hari berikutnya, aku palingkan 
diriku dari pekerjaanku, lalu aku serahkan raga, jiwa dan kehidupanku untuk 
agama Muhammad.
   
  Hari ini aku adalah putra Islam. Aku bahagia melebihi hari-hari kehidupanku. 
Mungkin aku akan pergi ke Afrika. Dan bila jadi pergi, aku akan melepaskan 
kewarganegaraan sekaligus busanan baratku. Dan, sebagai seorang mukmin yang 
menganut agama
   
  timur, aku akan menjadi orang timur (islam). Bila sekali pergi, aku tidak 
akan kembali. Kehidupanku telah aku baktikan untuk Allah, sedang pekerjaanku 
telah mati dan aku lupakan. 
   
  (Salah satu kisah dari buku “Akhirnya Mereka Lari Dari Neraka -karya Kholid 
Abu Sholih-)
   
   
  Sofiya dan Pencarian Kebenaran   
  By ichsanmufti 
   
  Tidak disangsikan lagi bahwa tauhid merupakan pilihan setiap orang yang 
menggunakan akalnya untuk mengetahui kebenaran sesuatu. Inilah sesungguhnya 
yang terjadi pada Sofiya, gadis inggris yang tengah menginjak usia 15 tahun. 
Sofiya menggunakan akalnya dan menjelajah dunia maya (browsing internet) untuk 
mencari kebenaran. Yakni hakikat segala yang ada, dari mana asalnya dan 
bagaimana akhirnya, hingga ia mendapatkan apa yang dicarinya dalam situs islam. 
Dan ketika telah sampai pada tingkat keyakinan, ia memberitahu teman-temannya 
dalam forum percakapan islami (Chatting Room). 
   
  Ia beritahukan kepada mereka bahwa dirinya berniat masuk islam, tetapi ia 
tidak tahu bagaimana caranya, khususnya karena tidak ada orang-orang  islam di 
sekitarnya, apalagi masjid. Orang-orang yang chatting dengannya memberitahukan 
bahwa ia harus mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan saksi-saksi muslim. 
Berhubung di kotanya tidak ada orang muslim, maka orang-orang yang mengobrol 
lewat chatting itulah yang menjadi saksi. Selanjutnya Sofiya menuliskan 
kalimat,”La ilaha illallah, Muhammad Rasulullah” di layar komputer seraya 
mengucapkannya melalui microphone. Lantas sampailah jawaban para peserta 
diskusi  seraya serempak menggemakan takbir, “Allahu akbar… Allahu 
akbar..Alhamdulillah.” Demikianlah, Islam menyinari hati Sofiya sebagaimana 
telah menerangi hati orang banyak lainnya yang memiliki akal sehat. 
   
  (Salah satu kisah dari buku “Akhirnya Mereka Lari Dari Neraka -karya Kholid 
Abu Sholih-. Penerbit WIP)
   
   
  Sumber : http://kadomuslim.com/
uhh mantep sekali kan..coba bandingkan dengan kita oh no..
jadi apa kita ini jadi hanya memikirkan kesuksesan dunia saja dan melalaikan urusan akhirat?
kita sudah islam dari dulu masih aja kaya gini2 aja...wah3..
jangan jangan kita mau jadi orang yang cinta dunia dan takut mati..penyakit al-wahan gitu deh..
naudzubillah..